NEURO-WEEKLY Eps. 11 – Pusat Neurosains UHAMKA
Menu Close

NEURO-WEEKLY Eps. 11

Trust Issue

Kepercayaan adalah dasar dari semua koneksi manusia, dari pertemuan baik kebetulan hingga persahabatan dan hubungan intim. Manusia memiliki interaksi kompleksnya sendiri, mereka menilai, berasumsi, menghakimi sebagai hasil dari interaksi.

Penilaian awal tentang apakah seseorang layak dipercaya secara otomatis terjadi di luar kesadaran kita, dikarenakan pengalaman kita. Tetapi kenyataannya adalah bahwa bahkan dalam konteks hubungan kedekatan, tanggapan kita adalah hasil dari yang tidak kita sadari.

Kapasitas manusia untuk mempercayai dan tidak mempercayai. Ada beberapa orang bisa lebih mudah mempercayai daripada yang lain. Seorang anak yang mempelajari bahwa orang-orang yang dekat dengannya dapat diandalkan, dapat dipercaya, dan akan menjaganya memiliki harapan yang sangat berbeda tentang interaksi manusia daripada teman sebaya yang tidak merasa memiliki pengalaman rasa aman. menurut Mario Mikulincer, ada  tiga komponen yang tanpa sadar kita lakukan:

  1. Asumsi bahwa jika kita membutuhkan bantuan, kita dapat beralih ke seseorang yang kita percayai.
  2. Asumsi bahwa jika kita membutuhkan dukungan, orang dekat kita akan ada untuk kita dan dengan senang hati memberikannya.
  3. Pengakuan bahwa kita akan dihibur dan lega dengan dukungan yang kita berikan.

Ada beberapa dari kita mungkin tidak mempercayai orang lain untuk hadir dan khawatir untuk mengandalkan mereka. Individu yang terhindar dari keterikatan  seseorang yang telah diabaikan, ditolak, atau bahkan dilecehkan dan dengan demikian menghindari kontak dekat dan menghindari untuk mengandalkan bantuan siapa pun karena mereka sama sekali tidak percaya, dan mereka melakukan apa yang mereka bisa untuk tetap mandiri.

Ingatlah bahwa representasi mental ini bukanlah fungsi dari proses sadar. Kepercayaan atau kekurangan itu tidak dihasilkan melalui proses pemikiran rasional tetapi diproses sesuai dengan naskah mental yang bahkan mungkin tidak kita ketahui bahwa kita mengikutinya. Meski begitu, pada saat ini kita mungkin belum mengenali polanya.

seseorang dengan basis yang aman lebih cenderung dapat melihat perilaku peduli dan lebih akurat dalam persepsi mereka tentang pasangannya; mereka juga lebih cepat memahami dan memaafkan jika pasangan mengecewakan mereka dalam beberapa hal.

Karena representasi mental kita otomatis dan tidak dirasakan secara sadar, kita dapat mengantisipasi pengaruhnya terhadap cara kita menafsirkan peristiwa dan tindakan dengan membawanya ke dalam kesadaran. Jika kita kesulitan mempercayai orang lain, sebaiknya kita berfokus pada apa yang  kita inginkan dan mencari jalan lain. Apakah  kita menafsirkan kata-kata dan gerak tubuh teman atau pasangan  kita  dengan benar atau apakah  kita cenderung salah membaca isyarat dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia benar-benar akan ada untuk kita? Dapatkah kita mengandalkannya dan, jika tidak bisa, mengapa tidak?

Referensi

Simpson, Jeffry A. “Psychological Foundations of Trust,” Current Directions in Psychological Science (2007) vol. 16, no. 5, 264-268.Mikulincer, Mario, Philip R. Shaver, et al. “What’s Inside the Minds of Securely and Insecurely Attached People? The Secure-based Script and Its Associations with Attachment Style Dimensions,“ Journal of Personality and Social Psychology (2009), vol. 97, no, 4, 615-633.Waters, Harriet S, and Everett Waters, “The attachment working models concept: among other things, we build script-like representations of secure base experiences,” Attachment and Human Development September 2006, 8(3). 185-197.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *