NEURO-WEEKLY Eps. 10 – Pusat Neurosains UHAMKA
Menu Close

NEURO-WEEKLY Eps. 10

Psychology of Religion

Beragam agama di Indonesia ada yang mengikuti keluarga, orang tua, atau pilihannya sendiri. Secara khusus, mereka mendefinisikan agama sebagai seperangkat pikiran dan perasaan yang memunculkan keyakinan, kekuatan yang sering dianggap sakral.

Ada penelitian menarik, Peneliti menggunakan alat bantu dari neurosains untuk mengetahui bagian otak yang terlibat dalam keyakinan agama. Misalnya, teknik seperti fMRI dan ERP memungkinkan ahli saraf menghubungkan aktivitas di wilayah otak tertentu dengan berbagai jenis kognisi religius. Lebih lanjut, penelitian terhadap pasien kerusakan otak menunjukkan kepada kita bagaimana sikap orang tentang agama dapat berubah karena hilangnya fungsi di area tertentu di otak.

Seperti halnya dengan semua perilaku kompleks, banyak area otak terlibat. Nyatanya, anggapan bahwa wilayah otak tertentu memiliki fungsi tertentu cukup naif, dan hal itu telah sepenuhnya dibantah.

Selain itu, kami melihat bahwa agama seperti bahasa atau musik yang menggunakan area otak yang sama yang digunakan oleh fungsi lain. Pengamatan ini juga membantu kita memahami betapa uniknya perilaku manusia seperti ini bisa berevolusi.

Kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain. Kemampuan ini tidak muncul pada manusia sampai usia prasekolah, dan mereka terus berkembang.

Interaksi sosial manusia jauh lebih kompleks daripada interaksi yang dilakukan oleh spesies lain dan kita sudah terbiasa melihat orang lain sebagai agen yang disengaja yaitu, sebagai makhluk yang mampu memilih tindakan mereka sendiri. Bagi seorang yang tidak mempercayai tuhan, dan dewa, hal itu adalah khayalan. Penelitian mendapati saat kita memikirkan tentang Tuhan kita atau berdoa kepada mereka, area otak kita yang sama menyala seperti saat kita berinteraksi dengan orang lain.

Memang, gagasan memohon kepada tuhan untuk menjadi perantara atas nama kita adalah ciri khas agama yang tertanam.

Penelitian dilakukan pada orang yang mempercayai agama dan tidak mempercayai agama untuk diberikan kejut listrik. Mereka yang berdoa melaporkan tingkat rasa sakit yang lebih rendah daripada mereka yang terlibat dalam pemikiran non-agama. Hasil ini sejalan dengan temuan umum bahwa ekspektasi, seperti sugesti hipnotis, dapat memengaruhi pengalaman nyeri. Ini juga sesuai dengan pepatah Karl Marx bahwa agama adalah candu dari massa.

Studi pencitraan otak juga menunjukkan bahwa doa berulang dapat mengaktifkan sistem penghargaan otak. Dengan kata lain, area otak yang sama yang terkait dengan pengalaman yang menyenangkan setidaknya di antara orang percaya yang taat.

Referensi

Grafman, J., Cristofori, I., Zhong, W., & Bulbulia, J. (2020). The neural basis of religious cognition. Current Directions in Psychological Science. Advance online publication. DOI: 10.1177/0963721419898183

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *